Aku ingin hatiku
seperti emas murni. Bukankah harga emas murni lebih mahal daripada emas yang
tercampur bahan-bahan lain? Bukankah emas merupakan logam paling mulia
dibandingkan logam-logam lainnya? Murni terbebas dari pengotor-pengotor yang
membuat ianya tak secemerlang pada mulanya.
Merelakan
sesuatu pergi dan benar-benar menghilang. Merelakan apa-apa yang dicintai menjadi
sebaliknya. Hingganya tak ada lagi yang dapat menyandingi cinta-Nya Yang Maha
Esa. Hingganya tak ada lagi yang lebih tinggi daripada Maha Pencipta Cinta. Tatkala
sepenuhnya hati-hati ini telah murni, maka tak akan ada sedikitpun rasa kecewa.
Tak akan ada sedikitpun resah dan gelisah apalagi gunah gulana.
Hey kamu
yang di seberang pulau sana! Sungguh kah untuk benar-benar jalankan “niat baik”
itu? Sungguh aku hanya terlena sesaat. Sejatinya sekarang aku tersadar bahwa
itu hanyalah kata-kata belaka. Belum terlihat kesungguhan yang sebenarnya.
Karna kesungguhan itu adalah proses, belumlah terlihat hasilnya.
Akan ada
foto baru di ruang keluarga ini? Iyakah? Foto baru siapa? Ah aku hanya
berkhayal saja. Masih saja mata-mata ini terpaku pada foto wisuda kuliahku.
“Contohlah
sifat burung merpati, kamu ini perempuan,” ujar ibu sambil menepuk pundakku,
membuyarkan lamunanku.
“Ee..
maksudnya apa bu?” tanyaku.
“Merpati
itu tampaknya seperti mudah untuk ditangkap. Sungguh menarik hati bagi siapa
saja yang melihatnya. Namun merpati itu akan terbang saat ada yang mau
menangkapnya. Ia melihat seberapa besar kesungguhan orang yang akan menangkap
merpati itu,” Jelas ibu sambil menatap wajahku.
“Iya bu..
benar juga, makasih bu sudah mengingatkan,” seraya aku memeluk ibu, ibu pun
mengelus dan mengecup kepalaku seraya berbisik. “semoga diberikan yang terbaik
untukmu, untuk agamamu, dan untuk jalan jihadmu menggapai ridho-Nya,” bisik
ibu.
“Aamiin..”
balasku setengah berbisik.
Dua tahun
berlalu hati-hati ini semakin merasa tenang dan tentram. Selalu berusaha jauh
dari pengotor-pengotor hati yang membuat ianya menjadi tidak murni lagi.
Senantiasa berkumpul dengan orang-orang yang sama-sama berjuang untuk meraih
hati yang murni. Kami dipertemukan semata-mata hanya karena satu, mengharap
ridha Allah.
Lantas selama
dua tahun yang telah berlalu apakah tak ada sedikitpun kecenderungan-kecenderungan
terhadap apa-apa yang dicintai selain Dia yang Maha menciptakan cinta? Bukankah
Allah telah ciptakan kecintaan kepada apa-apa yang di inginkan? Ya jujur bahkan
sampai sekarang kemanapun aku pergi selalu saja kecenderungan itu ada.
Tapi aku
bisa sedikit memanage hati-hati ini agar tidak menduakan cinta-Nya. Cukuplah Allah
yang mengisi rongga di dada ini. Cukuplah Allah sebagai pelindung dan penolong
hati ini agar selalu terpaut pada-Nya.
Part I Klik disini
Part I Klik disini

0 comments:
Post a Comment