Monday, February 13, 2012

Tragedi U.M.B.R.E.LL.A (Part 1)

Posted by Gigikucing at 7:29 PM
Umbrella kalau di terjemahkan di google translate itu artinya payung. Ya, ada apa dengan payung? musim hujan tiba maka penjualan payungpun meningkat. Akulah salahsatu korban payung. Namun entah mengapa setiap ku membeli payung, belum satu atau dua hari payung itu pasti rusak. Ah..mungkinkah karena payung yang aku beli tidak barokah, ataukah karena murah harganya, alih alih lagi mungkin karena payung itu telah mengkutukku untuk tidak memilikinya.

Biarlah si rintik-rintik hujan itu menyentuh tubuhku. Ya itu rintik-rintik, lalu bagaimana jika debit rintik-rintik itu membesar? Basah pasti dari ujung kepala sampai ujung kaos kaki. Menunggu hujan
pun tak bisa di hindarkan. Menunggu hujan mengikuti ritme hujaman air yang turun dari gumpalan-gumpalan air dari langit itu.

Selalu seperti itu sampai akhirnya temanku memberi saran untuk membeli sebuah payung. Namun aku masih saja enggan. Rasanya aku seperti dikutuk oleh si payung untuk tidak memilikinya. Sarannya tidak ku indahkan. Alhasil lagi-lagi ku Menunggu hujan, baju basah, cucianpun menumpuk.

Ok! ku mengalah, coba melawan kutukan payung. Sebuah payung berwarna hijau terang di salahsatu pasar tradisional. Hagarganya cuma 15ribu, itupun setelah tawar-menawar dengan ibu penjual payung dari harga 25ribu rupiah.Ketika di buka payung itu bagus tak ada cacat.

Alhamdulillah ku punya payung jua. Sesampainya di rumah, payung hijau itu aku buka lagi. Dan..apalah yang terjadi, ikatan tali dari kerangka payung itu telepas. Lagi-lagi...hmm...Baiklah masih bisa di perbaiki, payungnya masih bisa dipakai.

Ah.. payung hijauku perdana dipakai hari ini. Satu hari setelahku membelinya. Aku menyebutnya, "Hujan Perdana". Biasanyaa sepayung berdua bersama sahabatku, sepulang kampus itu. Namun kali ini lain, kami memakai payung masing-masing. Ya aku dengan payung hijauku, Ya sahabatku dengan payung kotak-kotaknya.

Walaupun tak sepayung berdua lagi setidaknya sebelah tanganku tidak kebasahan lagi, rok pun tak kecipratan air lagi. Sedih ya sedih sempat ku sedih. Namunpula sampai kapan aku merepotkan sahabatku. Sudah cukup kurasa. Dia sahabatku yang baik. Beranjak dari kampus menuju masjid, dengan payung masing-masing.

Menuju perjalanan pulang, sampai naik dan turun dari angkot masih ditemani "si ijo" (baca: payung). Hujan sepertinya sangat betah berlama-lama di kota kembang ini. Turun bersama seorang ibu-ibu, ia tidak membawa payung. Lantas aku ajak ia menyebrang bersama si ijo. Mendadak hari itu menjadi ojeg payung.

Payung perdanaku semoga barokah, dan yang terpenting adalah, semoga hujan di seanjang sore ini membawa banyak manfaat. Ya si ijopun begitu.

Sampai kapan ia bertahan? entahlah, Sampai kapanpun si ijo bertaha, semoga menjadi barokah...ya itu untuk siapa saja yang membutuhkannya...

0 comments:

Post a Comment

 

Coretan Gigi Kucing Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea