Umbrella kalau di terjemahkan di google translate itu artinya payung.
Ya, ada apa dengan payung? musim hujan tiba maka penjualan payungpun
meningkat. Akulah salahsatu korban payung. Namun entah mengapa setiap ku
membeli payung, belum satu atau dua hari payung itu pasti rusak.
Ah..mungkinkah karena payung yang aku beli tidak barokah, ataukah karena
murah harganya, alih alih lagi mungkin karena payung itu telah
mengkutukku untuk tidak memilikinya.
Biarlah si rintik-rintik hujan itu menyentuh tubuhku. Ya itu
rintik-rintik, lalu bagaimana jika debit rintik-rintik itu membesar?
Basah pasti dari ujung kepala sampai ujung kaos kaki. Menunggu hujan
pun
tak bisa di hindarkan. Menunggu hujan mengikuti ritme hujaman air yang
turun dari gumpalan-gumpalan air dari langit itu.
Selalu seperti itu sampai akhirnya temanku memberi saran untuk
membeli sebuah payung. Namun aku masih saja enggan. Rasanya aku seperti
dikutuk oleh si payung untuk tidak memilikinya. Sarannya tidak ku
indahkan. Alhasil lagi-lagi ku Menunggu hujan, baju basah, cucianpun
menumpuk.
Ok! ku mengalah, coba melawan kutukan payung. Sebuah payung berwarna
hijau terang di salahsatu pasar tradisional. Hagarganya cuma 15ribu,
itupun setelah tawar-menawar dengan ibu penjual payung dari harga 25ribu
rupiah.Ketika di buka payung itu bagus tak ada cacat.
Alhamdulillah ku punya payung jua. Sesampainya di rumah, payung
hijau itu aku buka lagi. Dan..apalah yang terjadi, ikatan tali dari
kerangka payung itu telepas. Lagi-lagi...hmm...Baiklah masih bisa di
perbaiki, payungnya masih bisa dipakai.
Ah.. payung hijauku perdana dipakai hari ini. Satu hari setelahku
membelinya. Aku menyebutnya, "Hujan Perdana". Biasanyaa sepayung berdua
bersama sahabatku, sepulang kampus itu. Namun kali ini lain, kami
memakai payung masing-masing. Ya aku dengan payung hijauku, Ya sahabatku
dengan payung kotak-kotaknya.
Walaupun tak sepayung berdua lagi setidaknya sebelah tanganku tidak
kebasahan lagi, rok pun tak kecipratan air lagi. Sedih ya sedih sempat
ku sedih. Namunpula sampai kapan aku merepotkan sahabatku. Sudah cukup
kurasa. Dia sahabatku yang baik. Beranjak dari kampus menuju masjid,
dengan payung masing-masing.
Menuju perjalanan pulang, sampai naik dan turun dari angkot masih
ditemani "si ijo" (baca: payung). Hujan sepertinya sangat betah
berlama-lama di kota kembang ini. Turun bersama seorang ibu-ibu, ia
tidak membawa payung. Lantas aku ajak ia menyebrang bersama si ijo.
Mendadak hari itu menjadi ojeg payung.
Payung perdanaku semoga barokah, dan yang terpenting adalah, semoga
hujan di seanjang sore ini membawa banyak manfaat. Ya si ijopun begitu.
Sampai kapan ia bertahan? entahlah, Sampai kapanpun si ijo bertaha,
semoga menjadi barokah...ya itu untuk siapa saja yang membutuhkannya...
Tamu Kecoretan GigiKucing
Blog Archive
Translate this blog
Entri Populer
-
Sebenarnya ini bukan tulisan saya, pun ini bukan sebuah cerpen. Ini adalah sepucuk surat dari seorang akhwat (Perempuan) kepada seorang ikhw...
-
Di sebuah kota tentram bernama Bandung, hiduplah tiga sahabat kecil. Mereka disebut trio sundaers yang terdiri dari Sangkuriang, Kabaya...
-
Hasil Rontgen tangan kiri gigikucing di RSHS Saya tak melihat kak deni, ka tezar, kak cakra, dan dua orang pemuda yang telah menolon...
-
“Mama akan memberikanmu uang kalau kamu mau merubah sikapmu,” tegas mama yang sejak tadi masih duduk tenang di kursi ruang tamu. “Mah ...
-
“Kak, mau sampai kapan di PAS?” tanya seorang kakak padaku. “He? Kok nanya gitu?” jawabku sambil mendelik. “Iya ingin tahu aja, ...
-
Tangan kiri gigikucing Patah >_< Seperti biasanya hari selasa adalah jadwal mengajar les privat yang paling banyak yakni ketiga ...
-
Masjid Salman ITB Kenapa ya aku bisa ada di salman ITB? Takdir, ya takdir yang dimulai dari kesasarnya di Institut Teknologi Bandung (...
-
Aku pejamkan kedua mataku. Namun entah kenapa sosoknya justru semakin jelas terlihat. Senyumnya terkembang. Gigi gingsulnya melengkapi s...
-
Oleh: Neisa Andriana* Subuh yang sunyi. Si Tengah di rumah sepupunya, Si Bungsu saya biarkan lelap –semakin nyenyak bila tidur di ka...
-
Sebuah petualangan pemuda bahari selama dua puluh empat hari menyisakan kenangan-kenangan yang tak pernah terlupa. Betapa tidak? Karena i...
Monday, February 13, 2012
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment