Monday, February 13, 2012

Sekeping Mimpi

Posted by Gigikucing at 7:19 PM
Ada bening dimata setelah saya membaca kisah ini. Entah mengapa tulisan ini menguatkan niat saya untuk wujudkan mimpi-mimpi saya di 1433H atau Tahun 2012 ini. Bening di mata itu terus mengalir deras seiring mimpi-mimpi yang belum terealisasikan dan mengingat semua keterbatasan saya. Namun saya YAKIN se-YAKIN YAKINNYA... Semua itu Mudah ketika kita percaya dan Pasrahkan semuanya kepada Sang Pemilik Bumi dan Langit ini.
Ikuti kisahnya sampai habis, Cek This Out!

Suatu hari, sebuah kisah mulia terjadi dan bermula dari suatu tempat yang sangat sederhana, Pangkalan becak. Seorang bapak tua tengah membersihkan keringatnya setelah seharian bekerja. Beliau adalah seorang tua yang berusia sekitar 75 tahun dan sudah lebih dari 35 tahun mencari nafkah dengan menarik becak. Sosoknya sangat sederhana dan murah senyum. Dikalangan teman- temannya, si bapak tua adalah seorang yang sangat disegani, karena kejujurannya.

ketika sore menjelang, ada seorang anak muda menaiki becaknya. Si anak muda adalah seorang yang kaya, terpelajar dan modern. Dia berniat datang ke kota tersebut untuk berekreasi dan melepas penatnya setelah lama bekerja di kota. Berjam- jam mereka berkeliling kota, sampai akhirnya adzan magrib pun berkumandang. Seketika, si bapak tua itu menghentikan becaknya di depan sebuah masjid, dan meminta ijin untuk sholat.

Setelah beberapa lama, mereka kemudian melanjutkan kembali acara jalan- jalan tadi. Dan, sampailah mereka pada sebuah warung kopi dipinggir jalan.

"Nak, apa bapak boleh minta ijin sebentar untuk buka puasa?"

" Bapak puasa? " Jawab anak muda tersebut dengan sedikit terkejut.

" Iya. sebentar saja, bapak ingin beli air dulu"

" Saya ikut sekalian pak. Kita minum kopi bareng. Saya yang traktir" Kata si anak muda dengan semangat.

Mereka berduapun akhirnya melepas lelah sambil ngobrol dan bersantai di warung tersebut.

" Kenapa bapak puasa tapi masih mengayuh becak?. Apa ndak capek?" Si anak muda memulai pembicaraan.

" Bapak sudah terbiasa insyaallah. Ndak apa- apa nak" Jawab pak tua singkat.

Waktupun terus berlalu. Banyak hal mereka bicarakan bersama malam itu. Dan melihat hari semakin malam, anak muda tersebut berniat pamit pulang. Dia mengucapkan terimakasih seraya memberikan uang sebagai ongkos naik becak. Tapi di luar dugaan, bapak tukang becak itu menolaknya.

" Ini kan ongkos buat bapak tadi setelah seharian mengantar saya." Kata anak muda itu kali ini dengan masih sangat heran

" Ndak nak, trimakasih" jawab bapak tua

" Maap apa masih kurang? Ok. Ini buat bapak semua" Tanyanya lagi sambil memberikan uang 2 ratus ribu.

"Maaf nak bukan begitu. Sebenarnya..."

" Kenapa pak? " Diapun buru- buru memotong perkataan itu.

" Maaf nak, bukan bapak tidak mau menerima. Tapi hari ini hari kamis nak, bapak tidak mau menerima uang dari siapapun yang naik becak bapak. "

" Kok bisa begitu pak?" Tanya si anak muda dengan lebih penasaran. "

"Bapak inikan orang miskin dan bodoh, tapi... sebenarnya bapak ingin naik haji. Semua orang memang mentertawakan bapak, mereka bilang bapak suka berkhayal. Lah wong, buat makan sehari hari saja tidak cukup apalagi naik haji. Akhirnya bapak cuma bisa minta sama Allah, karena bapak yakin Allah satu- satunya yang tidak akan mentertawakan bapak."

"Lalu..." si anak muda tidak dapat menghentikan rasa penasarannya.

"Kalau hari senin dan kamis bapak tidak akan meminta bayaran sedikitpun kalau ada orang yang naik becak. Bapak berniat sedekah dengan tenaga bapak itu. Bapak berharap suatu hari Allah melihat kesungguhan usaha ini dan akan mengabulkan doa bapak."

" Apa bapak yakin? "

" Kalau kita berharap pada makhluk, kita harus siap- siap untuk setiap saat kecewa, tapi kalau kita berharap hanya pada Allah, Dia adalah satu- satunya yang tidak pernah mengkhianati kita, nak. Kita harus Yakin dengan apa yang kita doakan dan cita- citakan, Insyaallah Allah tidak akan mengkhianati kita. "

Sejenak si anak muda tersebut terdiam. Benar- benar kali dia kehilangan walaupun hanya satu huruf saja untuk di ucapkan. Tak terasa, kopi yang disuguhkan dihadapannya telah dingin. Dan dia masih belum bisa mengatakan apapun. Setelah beberapa saat dia pamit pulang meninggalkan pasar yang ramai dengan hiruk pikuknya.

Setelah sampai di rumah, pikirannya kemudian di penuhi dengan seribu satu hal. Kata- kata bapak tukang becak itu begitu lugu dan natural namun sangat dalam baginya. Entah mengapa, seketika perasaan malu menyeruak melingkupi batinnya. Teringat padanya, bahwa dia selama ini yang selalu dalam gelimang harta dan kekayaan, namun sangat susah baginya untuk sekedar meluangkan waktu untuk mengingat tuhannya. Kesadarannya tiba- tiba muncul dan berkata bahwa ternyata selama ini, harta yang dia miliki hanyalah sekedar ujian baginya, dan sayangnya dia tidak berhasil dalam ujian itu, karena terbukti harta telah membuatnya jauh dari Allah sang maha Rahman.

Masih terngiang di kepalanya, ucapan bapak tukang becak tersebut. Herannya, dia bukanlah seorang profesor atau manusia yang mempunyai gelar terhormat, namun baru kali inilah, seorang yang lugu, sederhana, namun sangat sholeh, telah berhasil menyentuh hatinya.

Beberapa hari kemudian...

Si anak muda akhirnya telah kembali ke kota tersebut, dan kali ini dia berada di tengah- tengah pangkalan becak itu. Telah bulat tekadnya untuk menemui tukang becak tua yang dia jumpai beberapa hari lalu, untuk membicarakan sesuatu. Setelah beberapa jam mencari dan menunggu, maka bertemulah mereka berdua, masih di tempat warung kopi yang sama seperti dulu.

" Apakah bapak mau menemani saya?" tanya anak muda tersebut sambil tersenyum.

" Kemana nak?"

" Saya ingin mengajak bapak berhaji tahun ini"

...TAMAT...

"Subhanallah" itulah kata pertama yang saya ucapkan. Seiring bening di mata yang terus mendesak untuk keluar. Jerit hanya bisa menjerit. Selama ini saya punya impian tulus seperti bapak tukang becak itu. Yaitu Pergi Haji Beserta kedua Orangtua". Namun niat tulus saya itu tidak sekuat niat tulus bapak tukang becak itu. Di detik itu juga saya berazzam yang tidak jauh beda dengan si Bapak Tukang Becak itu. "Setiap Senin dan Kamis Aku berpuasa dengan tetap membawa Potatonaaat, yang biasanya temanku membelinya kini, GRATIS". Ingin saya adalah berbagi kepada mereka, teman-teman seperjuangan saya.

Bukan, bukan hanya itu. Sebenarnya saya telah ada niatan untuk membuat sebuah tabungan haji seperti kisah sepasang suami istri, Indah Rozalina dan Akhyar Gunawan dalam buku "Pergi Haji dengan Rp. 100,-" terbitan Asma Nadia Publihsing House. Dalam buku itu mereka berniat untuk pergi haji, namun seperti biasa. karena keterbatasan biaya membuat mereka jauh dari impian itu. Biaya tidak lagi menjadi masalah ketika mereka YAKIN bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan mengabulkan doa hamba-Nya yang tulus dan sungguh-sungguh. Mereka mengawali niat tulus itu dengan satu koin 100,- besar.

Satu jam saja saya membaca buku itu sampai habis. Sebenarnya telah ada niatan untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan sepasang suami-istri itu. Entah kenapa saya masih menunda. Namun detik ini saya langsung mencari kaleng bekas. Hingga saya temukan sebuah kaleng kosong bekas kue-kue lebaran. Saya membolongi tutupnya dengan pisau. Setelah itu saya hendak menyegel tutup kaleng itu dengan selotip, namun tak ketemu. Ya sudahlah dengan doubletip saja yang ada. Kaleng itu saya beri nama "Koin Untuk Haji" dengan sepidol biru.

Bismillah Koin Pertama Rp. 25,-


Saya mengajak adik saya untuk menabung di Tabungan "Koin Untuk Haji" itu. Ia pun mau. Kebetulan adikku punya banyak kepingan uang koin. salahsatunya adalah Rp. 25,- yah itulah koin pertama yang saya masukkan. Setelah itu saya memasukkan koin-koin lain Rp. 100,- 200,- 500,- dan 1000,-. Tabungan Haji itu isinya hanya koin. dan tidak akan pernah dibuka sampai impian untuk pergi Haji bersama kedua orang tuaku terealisasikan.

Aamiin...

0 comments:

Post a Comment

 

Coretan Gigi Kucing Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea