Aku dan
mamaku memang sangat terhubung. Entah mengapa yang biasa orang bilang connectedness itu memang benar adanya
dalam diriku juga mamaku.
Sebelum pulang
ke rumah satu hal yang terpikirkan olehku adalah bagaimana aku mengumpulkan
uang. Memang saat ini sudah ada satu juta yang telah ku tabung untuk membayar
biaya kuliah satu semesterku.
Delapan ratus
ribu dari Salman, tiga ratus ribu dari hasil mengajar TK, dan
sebenarnya masih
ada penghasilan lain dari jualan donatku dan hasil mengajar les ku. Namun kedua
hasil tersebut memang nyatanya selalu habis oleh keperluan bulananku. Apakah untuk
pulsa, kebutuhan pribadi, yaa untuk merawat diri laah..
Ya minggu
ini aku harus jualan, namun kini yang tersisa di dompetku, hasil mengajar les
dan jualan donat tinggal tiga puluh lima ribu. Entahlah cukup atau tidak untuk
membeli bahan-bahan membuat donat, seharusnya sih cukup cumaa karena bahan
untuk toping donatnya banyak yang habis terpaksa aku harus membeli semuanya. Paling
sedikit modalnya harus ada lima puluh ribu.
Masih kurang?
Tentu, justru sangat kurang.
“Assalamu’alaikum,”
kataku seraya membuka pintu dapur rumahku.
“Wa’alaikumsalam,”
jawab mama.
“Teh, tos
timana wae meni karek uih?” tanya mamaku (Kak, sudah darimana saja kok baru
pulang?). Aku memang baru sampai rumah tepat saat adzan isya berkumandang.
“Ti Salman,”
jawabku singkat.
“Naha tos
naon? Kan ayeuna poe rebo, kamari kan tos ti Salman,” mama bertanya lagi (Sudah
ngapain? Kan sekarang hari rabu, kemarin kan sudah dari Salman)
“Nyaa
nandatangan (beasiswa),” jawabku sambil berlalu menuju ke kamarku.
“Teteh…”
panggil mama dari kamarnya.
“Ya ada
apa?” tanyaku penasaran sambil mendekati kamar mama.
“Lamun
gaduh icis teh tabungkeun atuh, tingali kaayaan bapa, kan sawah masih teu acan
tiasa melakan deui” ujar mama (kalau punya uang itu ditabung dong, lihat
kenyataan bapak, kan masih belum menanam sawah lagi)
“Nyaa,
tanpa mama nyarios kitu teteh oge ngertos teteh oge gaduh otak keur mikir”
balasku sambil berlalu menuju kamar (yaa, tanpa mama bilang gitu teteh juga
udah ngerti teteh juga punya otak untuk berpikir)
Jlebb..
entah setelah berkata itu aku diam, aku merasa telah berkata yang tidak
seharusnya aku katakana kepada mama ku sendiri. Aku terlalu terbawa emosi,
entah mungkin karena aku sedang datang bulan jadi tempramenku mudah naik
terlebih jika disinggung soal uang. Semakin sensitive deh.
Mah, maafkan teteh yah telah berkata seperti
itu jerit hatiku.
Mataku tertuju
pada sebuah kartu undangan berwarna ungu. Undangan? Siapa yang menikah? Untukku
kah? Aku membuka kartu undangan itu. Undangan pernikahan teh tira, kakak
kelasku sewaktu masih mengaji di madrasah dulu.
Terlintas,
waktu pernikahannya minggu ini. Sedangkan minggu-mingguku telah tersedia hanya
untuk PAS. tak mungkin pula aku tidak memenuhi undangan itu. Aku harus tetap
memenuhi undangan itu. Mungkin minggu sore, semoga dimudahkan. Nah sekarang
masalahnya adalah hemm.. kado, yah tak mungkin aku datang ke undangan
pernikahan teh tira tanpa memberikan hadiah selain doa.
Lagi-lagi
aku melirik dompetku yang isinya hanya selembar uang dua puluh ribuan, selembar
uang sepuluh ribuan, dan selembar uang lima ribuan.
Buntu… dan
ketika buntu terbayang-bayang satu hal. Donat kentang!
Pokoknya aku
harus jualan donat!
Ya sabtu-ahad
ini jualan donat kentang andalanku satu-satunya. Ya Allah semoga lancar
rencanaku ini. Semoga yang dimoga termoga.
Aku bisa
belikan kado untuk teh tira, aku juga bisa berbagi, aku juga bisa memenuhi
kebutuhanku sendiri. Mudahkan Yaa Allah dalam segala urusanku.
0 comments:
Post a Comment