Wednesday, November 28, 2012

Cerita Tukang Donat Kentang

Posted by Gigikucing at 7:05 AM

Aku dan mamaku memang sangat terhubung. Entah mengapa yang biasa orang bilang connectedness itu memang benar adanya dalam diriku juga mamaku.

Sebelum pulang ke rumah satu hal yang terpikirkan olehku adalah bagaimana aku mengumpulkan uang. Memang saat ini sudah ada satu juta yang telah ku tabung untuk membayar biaya kuliah satu semesterku.

Delapan ratus ribu dari Salman, tiga ratus ribu dari hasil mengajar TK, dan
sebenarnya masih ada penghasilan lain dari jualan donatku dan hasil mengajar les ku. Namun kedua hasil tersebut memang nyatanya selalu habis oleh keperluan bulananku. Apakah untuk pulsa, kebutuhan pribadi, yaa untuk merawat diri laah..

Ya minggu ini aku harus jualan, namun kini yang tersisa di dompetku, hasil mengajar les dan jualan donat tinggal tiga puluh lima ribu. Entahlah cukup atau tidak untuk membeli bahan-bahan membuat donat, seharusnya sih cukup cumaa karena bahan untuk toping donatnya banyak yang habis terpaksa aku harus membeli semuanya. Paling sedikit modalnya harus ada lima puluh ribu.

Masih kurang? Tentu, justru sangat kurang.
“Assalamu’alaikum,” kataku seraya membuka pintu dapur rumahku.
“Wa’alaikumsalam,” jawab mama.
“Teh, tos timana wae meni karek uih?” tanya mamaku (Kak, sudah darimana saja kok baru pulang?). Aku memang baru sampai rumah tepat saat adzan isya berkumandang.
“Ti Salman,” jawabku singkat.
“Naha tos naon? Kan ayeuna poe rebo, kamari kan tos ti Salman,” mama bertanya lagi (Sudah ngapain? Kan sekarang hari rabu, kemarin kan sudah dari Salman)
“Nyaa nandatangan (beasiswa),” jawabku sambil berlalu menuju ke kamarku.
“Teteh…” panggil mama dari kamarnya.
“Ya ada apa?” tanyaku penasaran sambil mendekati kamar mama.
“Lamun gaduh icis teh tabungkeun atuh, tingali kaayaan bapa, kan sawah masih teu acan tiasa melakan deui” ujar mama (kalau punya uang itu ditabung dong, lihat kenyataan bapak, kan masih belum menanam sawah lagi)
“Nyaa, tanpa mama nyarios kitu teteh oge ngertos teteh oge gaduh otak keur mikir” balasku sambil berlalu menuju kamar (yaa, tanpa mama bilang gitu teteh juga udah ngerti teteh juga punya otak untuk berpikir)

Jlebb.. entah setelah berkata itu aku diam, aku merasa telah berkata yang tidak seharusnya aku katakana kepada mama ku sendiri. Aku terlalu terbawa emosi, entah mungkin karena aku sedang datang bulan jadi tempramenku mudah naik terlebih jika disinggung soal uang. Semakin sensitive deh.

Mah, maafkan teteh yah telah berkata seperti itu jerit hatiku.

Mataku tertuju pada sebuah kartu undangan berwarna ungu. Undangan? Siapa yang menikah? Untukku kah? Aku membuka kartu undangan itu. Undangan pernikahan teh tira, kakak kelasku sewaktu masih mengaji di madrasah dulu.

Terlintas, waktu pernikahannya minggu ini. Sedangkan minggu-mingguku telah tersedia hanya untuk PAS. tak mungkin pula aku tidak memenuhi undangan itu. Aku harus tetap memenuhi undangan itu. Mungkin minggu sore, semoga dimudahkan. Nah sekarang masalahnya adalah hemm.. kado, yah tak mungkin aku datang ke undangan pernikahan teh tira tanpa memberikan hadiah selain doa.

Lagi-lagi aku melirik dompetku yang isinya hanya selembar uang dua puluh ribuan, selembar uang sepuluh ribuan, dan selembar uang lima ribuan.

Buntu… dan ketika buntu terbayang-bayang satu hal. Donat kentang!
Pokoknya aku harus jualan donat!

Ya sabtu-ahad ini jualan donat kentang andalanku satu-satunya. Ya Allah semoga lancar rencanaku ini. Semoga yang dimoga termoga.

Aku bisa belikan kado untuk teh tira, aku juga bisa berbagi, aku juga bisa memenuhi kebutuhanku sendiri. Mudahkan Yaa Allah dalam segala urusanku.

0 comments:

Post a Comment

 

Coretan Gigi Kucing Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea