Tuesday, October 2, 2012

Potatonat Oh Potatonat, Rindu? Saya juga

Posted by Gigikucing at 12:16 PM

Sepulang kuliah aku melihat sebuah donat di meja makan. Tanpa pikir panjang aku langsung menyantapnya karena lapar. Ketika menyantapnya, aku merasa janggal. Karena rasanya seperti bukan donat biasanya.

“Mamah ieu naon?” tanyaku
(mamah ini apa?)
“Ohh eta donat kentang” jawab mamahku dari arah dapur.
(oh itu donat kentang)
“Waaahh enak! Resepna timana mah?”
(wah enak! Resepnya dari mana mah?)
“Itu tina buku majalah nu ade”
(itu dari buku majalah punya adik)
“Mana? Waah Teteh hoyong jualan ieu nya mah di kampus”
(Dimana? Wah kakak ingin berjualan ini yah mah di kampus)

Keesokan harinya, sepulang kuliah, aku mulai membeli bahan-bahan untuk membuat donat. Kentang, terigu, meses, TBM, telur, dan gula. Bahan-bahan tersebut aku beli di pasar, di grosir sampai di toko swalayan.

Sesampainya di rumah, aku tidak langsung membuat donat kentang. Karena agar lebih fres, donat kentang itu dibuat esok hari sebelum berangkat kuliah. Tepat pukul 2 malam, ibuku telah bersiap-siap membuat donat kentang. Aku terbangun karena suara bising dari mixer, alat pengocok kue.

Setelah terbangun, aku menghampiri ibuku untuk membantunya. Menyiapkan adonan bahan-bahan selanjutnya yang akan di mixer. Memasukkan tepung kedalam adonan itu secara perlahan. Setelah adonan tercampur, ibuku membanting-banting adonan itu.

“Mah, naha dibanting-banting adonanna?” tanyaku
(kenapa dibanting-banting donatnya?)
“Kan meh ngembang adonanna” jawab ibuku
(Agar mengembang adonan donatnya)
“Oohh.. ciga roti nya”
(ohh seperti roti yah)

Setelah usai membanting adonan, maka adonan siap dicetak. Awalnya adonan digulung-gulung membentuk bola ukurannya tiga kali lipat bola kelereng. Aku membantu ibuku. Setelah membentuk sebuah bola, jariku gatal untuk segera melubangi bola-bola tersebut agar menjadi sebuah donat. Namun ibuku melarangku untuk melubanginya. Adonan donat itu harus dibiarkan selama satu jam, agar bisa mengembang.

Sembari menunggu adonan tersebut mengembang ibuku mengambil air wudhu, hendak shalat malam. Pun aku tergerak untuk shalat malam juga.

Setelah usai shalat malam, aku dan ibuku kembali mendekati adonan-adonan yang telah berbentuk bola. Benar-benar mengembang! Kini ukurannya dua kali lebih besar. Barulah aku diperbolehkan untuk melubangi adonan berbentuk bola-bola itu.

Setelah dilubangi, adonan donat itu dibiarkan lagi selama 30 menit. Usai shalat subuh ibuku menyiapkan wajan dengan minyak untuk menggoreng adonan yang telah berbentuk donat itu. Setelah semua adonan digoreng, aku memberi toping diatas donat-donat itu.

Berbeda dengan donat kentang kebanyakan, biasanya donat kentang itu hanya dipenuhi oleh taburan gula putih. Namun aku memberikan toping coklat meses. Agar coklat menempel, aku mengolesi sedikit mentega. Selain meses adapun toping lain, yaitu keju. Parutan keju itu bukan punyaku sebenarnya itu minjam milik tetangga.

Sekarang donat kentang tampak lebih cantik dari sebelumnya. Saatnya aku menyiapkan diri untuk pergi ke kampus. Seperti biasanya aku pergi ke kampus dengan naik angkot ruing bandung, setelah itu turun di perempatan antapani. Ada yang aneh dengan diriku. Biasanya tidak pernah membawa jinningan.

Tempat donat itu disimpan diatas pangkuanku, setelah tas ransel, lalu diatasnya adalah tempat donat itu. Agak kerepotan ketika turun dari angkot, bahkan sempat terjatuh. Namun tanganku masih jeli, sehingga tempat donat-donat itu tidak terjatuh.

Usai memberikan uang ongkos kepada mang angkot, aku bergegas menuju kampus dengan berjalan kaki. Ketika itu pikirku melayang. Berat juga donat-donat ini. Aku membayangkan ketika aku pulang nanti jinjingan yang kubawa ini telah menjadi ringan. Ringan karena donat-donat itu telah habis.

Bismillah. Aku memasuki kampus. Orang pertama yang aku tawarkan adalah, yaa siapa lagi kalau bukan teman-teman sekelasku. Mereka yang telah datang awal menjadi sasaranku. Karena memang ini kali pertamanya aku membawa donat teman-temanku tidak segan-segan untuk membelinya. Sambil menunggu dosen yang belum datang aku berjualan. Dan ketika dosen telah tiba daganganku telah habis.

Alhamdulillah. Ketika pulang jinjingan itu kini telah menjadi ringan. Begitupun dengan hari esoknya, esoknya lagi dan lagi. hingga suatu ketika ada temanku yang berkata

“Ul, aku bosen donat beli donat terus, jualan yang lain dong, bala-bala atau apaa gitu”
“Oh iya iya, nanti bakal ada resep baru deh”

Di rumah, aku berkata keluhan temanku kepada ibuku. Sebenarnya ibu memang sudah ada ide, yaitu membuat onde ketawa dan pastel. Pun ibuku sudah tahu resep-resepnya. Dengan penuh semangat aku ingin segera membeli semua bahan-bahan itu. Termasuk alat untuk mencetak pastel itu. Tahukah pastel itu apa? Bahkan awalnya aku bertanya kepada ibuku, apa itu pastel.

Kata ibuku, pastel itu yang bentuknya seperti kerang, isinya ada bihun dan wortel. Seperti biasanya, ibuku mencatat bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat pastel. Sedang aku tinggal ke grosir untuk membeli bahan-bahan yang telah dicatat ibuku itu.

Modal untuk membuat pastel tentu lebih murah daripada membuat donat, sekitar Rp. 10.000,00.Bahkan kurang dari itu. Seangkan untuk membuat donat sekitar Rp.25.000,00. Memang jumlah yang dihasilkan tentu lebih banyak pastel daripada donat.

Di kampus aku menawarkan lagi kepada teman-temanku sampai dosen pun aku tawarkan. Dosen adalah sasaran empuk bagiku. Mereka pasti mau membeli daganganku tanpa banyak pikir panjang.

1 comments:

Dena Nur Rizsa said...

iyaaa, pingiiin....bikin lagi dong^^

Post a Comment

 

Coretan Gigi Kucing Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea