Sepulang
kuliah aku melihat sebuah donat di meja makan. Tanpa pikir panjang aku langsung
menyantapnya karena lapar. Ketika menyantapnya, aku merasa janggal. Karena
rasanya seperti bukan donat biasanya.
“Mamah ieu
naon?” tanyaku
“Ohh eta
donat kentang” jawab mamahku dari arah dapur.
(oh itu
donat kentang)
“Waaahh
enak! Resepna timana mah?”
(wah enak! Resepnya
dari mana mah?)
“Itu tina
buku majalah nu ade”
(itu dari
buku majalah punya adik)
“Mana? Waah
Teteh hoyong jualan ieu nya mah di kampus”
(Dimana? Wah
kakak ingin berjualan ini yah mah di kampus)
Keesokan
harinya, sepulang kuliah, aku mulai membeli bahan-bahan untuk membuat donat. Kentang,
terigu, meses, TBM, telur, dan gula. Bahan-bahan tersebut aku beli di pasar, di
grosir sampai di toko swalayan.
Sesampainya
di rumah, aku tidak langsung membuat donat kentang. Karena agar lebih fres,
donat kentang itu dibuat esok hari sebelum berangkat kuliah. Tepat pukul 2
malam, ibuku telah bersiap-siap membuat donat kentang. Aku terbangun karena
suara bising dari mixer, alat pengocok kue.
Setelah
terbangun, aku menghampiri ibuku untuk membantunya. Menyiapkan adonan
bahan-bahan selanjutnya yang akan di mixer. Memasukkan tepung kedalam adonan
itu secara perlahan. Setelah adonan tercampur, ibuku membanting-banting adonan
itu.
“Mah, naha
dibanting-banting adonanna?” tanyaku
(kenapa
dibanting-banting donatnya?)
“Kan meh
ngembang adonanna” jawab ibuku
(Agar
mengembang adonan donatnya)
“Oohh..
ciga roti nya”
(ohh
seperti roti yah)
Setelah
usai membanting adonan, maka adonan siap dicetak. Awalnya adonan
digulung-gulung membentuk bola ukurannya tiga kali lipat bola kelereng. Aku
membantu ibuku. Setelah membentuk sebuah bola, jariku gatal untuk segera
melubangi bola-bola tersebut agar menjadi sebuah donat. Namun ibuku melarangku
untuk melubanginya. Adonan donat itu harus dibiarkan selama satu jam, agar bisa
mengembang.
Sembari
menunggu adonan tersebut mengembang ibuku mengambil air wudhu, hendak shalat
malam. Pun aku tergerak untuk shalat malam juga.
Setelah
usai shalat malam, aku dan ibuku kembali mendekati adonan-adonan yang telah
berbentuk bola. Benar-benar mengembang! Kini ukurannya dua kali lebih besar. Barulah
aku diperbolehkan untuk melubangi adonan berbentuk bola-bola itu.
Setelah
dilubangi, adonan donat itu dibiarkan lagi selama 30 menit. Usai shalat subuh
ibuku menyiapkan wajan dengan minyak untuk menggoreng adonan yang telah
berbentuk donat itu. Setelah semua adonan digoreng, aku memberi toping diatas
donat-donat itu.
Berbeda
dengan donat kentang kebanyakan, biasanya donat kentang itu hanya dipenuhi oleh
taburan gula putih. Namun aku memberikan toping coklat meses. Agar coklat
menempel, aku mengolesi sedikit mentega. Selain meses adapun toping lain, yaitu
keju. Parutan keju itu bukan punyaku sebenarnya itu minjam milik tetangga.
Sekarang
donat kentang tampak lebih cantik dari sebelumnya. Saatnya aku menyiapkan diri
untuk pergi ke kampus. Seperti biasanya aku pergi ke kampus dengan naik angkot
ruing bandung, setelah itu turun di perempatan antapani. Ada yang aneh dengan
diriku. Biasanya tidak pernah membawa jinningan.
Tempat
donat itu disimpan diatas pangkuanku, setelah tas ransel, lalu diatasnya adalah
tempat donat itu. Agak kerepotan ketika turun dari angkot, bahkan sempat terjatuh.
Namun tanganku masih jeli, sehingga tempat donat-donat itu tidak terjatuh.
Usai
memberikan uang ongkos kepada mang angkot, aku bergegas menuju kampus dengan
berjalan kaki. Ketika itu pikirku melayang. Berat juga donat-donat ini. Aku
membayangkan ketika aku pulang nanti jinjingan yang kubawa ini telah menjadi
ringan. Ringan karena donat-donat itu telah habis.
Bismillah.
Aku memasuki kampus. Orang pertama yang aku tawarkan adalah, yaa siapa lagi
kalau bukan teman-teman sekelasku. Mereka yang telah datang awal menjadi
sasaranku. Karena memang ini kali pertamanya aku membawa donat teman-temanku
tidak segan-segan untuk membelinya. Sambil menunggu dosen yang belum datang aku
berjualan. Dan ketika dosen telah tiba daganganku telah habis.
Alhamdulillah.
Ketika pulang jinjingan itu kini telah menjadi ringan. Begitupun dengan hari
esoknya, esoknya lagi dan lagi. hingga suatu ketika ada temanku yang berkata
“Ul, aku
bosen donat beli donat terus, jualan yang lain dong, bala-bala atau apaa gitu”
“Oh iya
iya, nanti bakal ada resep baru deh”
Di rumah,
aku berkata keluhan temanku kepada ibuku. Sebenarnya ibu memang sudah ada ide,
yaitu membuat onde ketawa dan pastel. Pun ibuku sudah tahu resep-resepnya. Dengan
penuh semangat aku ingin segera membeli semua bahan-bahan itu. Termasuk alat
untuk mencetak pastel itu. Tahukah pastel itu apa? Bahkan awalnya aku bertanya
kepada ibuku, apa itu pastel.
Kata ibuku,
pastel itu yang bentuknya seperti kerang, isinya ada bihun dan wortel. Seperti
biasanya, ibuku mencatat bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat
pastel. Sedang aku tinggal ke grosir untuk membeli bahan-bahan yang telah
dicatat ibuku itu.
Modal untuk
membuat pastel tentu lebih murah daripada membuat donat, sekitar Rp. 10.000,00.Bahkan
kurang dari itu. Seangkan untuk membuat donat sekitar Rp.25.000,00. Memang
jumlah yang dihasilkan tentu lebih banyak pastel daripada donat.
Di kampus
aku menawarkan lagi kepada teman-temanku sampai dosen pun aku tawarkan. Dosen adalah
sasaran empuk bagiku. Mereka pasti mau membeli daganganku tanpa banyak pikir
panjang.
1 comments:
iyaaa, pingiiin....bikin lagi dong^^
Post a Comment