Ada bening
di matanya setelah renungan malam tentang “Ibu” diutarakan oleh pak guru. Bukan
hanya dia, semua orang yang ada didalam masjid sekolah ku ini terisak. Tangis mereka
semua pecah, terkecuali aku. Entah mengaa tak ada satu tetespun bening di mata
ini yang mengalir dari mataku. Tak hentinya ku pandangi dia, sesosok bidadari
bak turun dari langit.
Tak terelakkan bening di mata indahnya itu terus mengalir. Jujur hati ini tak bisa berbohong. Aku mencintainya. Bahkan cinta
pada pandangan pertama. Sekitar satu tahun yang lalu tepatnya. Saat aku masih jadi murid baru di SMA tercinta ku ini.
Saat duduk di Aula besar semua murid baru dikumpulkan. Taktala dia datang hatiku berdesir. “Subhanallah, cantiknyaa bagaikan bidadari yang turun dari langit! Matanya bening!” begitulah hatiku berkata. Seperti biasa di akhir masa orientasi siswa selalu ada demo dari semua Ekstra Kulikuler, atau yang biasa disebut “Ekskul”. Saat itu aku tertarik dengan Ekskul Remaja Masjid dan Karya Ilmiah Remaja (KIR).
Senang itu ketika pilihan Ekskul ku itu sama dengan dia si mata bening. Maka seringlah ku bertemu dengannya. Hingga akhirnya ku tahu namanya “Suci Shaleha”. Sampai saat ini ku telah duduk di kelas 2 SMA. Sampai saat ini ku telah mempunyai SIM dan boleh membawa motor ke sekolah. Niat baikku adalah menjadi supir pribadinya, kelak saat ku mempunyai motor.
Namun apa daya, tak pernah kesampaian. Entah rasanya mungkin karena belum ada waktu yang cocok untukku mengantarnya pulang bersamaku. Yaa selain ku agar tahu dimana rumahnya.
Dua hari satu malam aku menginap disekolah. Pun dia begitu. Kami bersama teman-teman Rohis malam tadi telah mengikuti Mabit. Mabit yang keduakalinya semenjak aku mengikuti Ekskul rohis ini. Sekarang kesempatan itu seakan terbuka lebar. Kesempatan untukku mengajaknya pulang bersama dia si mata bening.
Semua teman-temanku telah pulang, awalnya ku kira dia juga sudah pulang duluan. Ternyata dia masih ada, mungkin masih menunggu angkot.
“Assalamu’alaikum ukhti,” kataku sambil menghentikan laju motorku.
“Wa’alaikumsalam
Warahmatullah,” balas Suci sambil menundukkan kepalanya.
“Ukhti
belum pulang? Ayo Hasan siap jadi tukang ojeg aja kalo gitu, buat antar Ukhti
pulang,” ajakku.
“Maaf Akhi
tak usah merepotkan, Ana pulang sendiri saja naik angkot.”
“Ohh, ya
sudah hati-hati di jalan ya Ukhti!” kataku sambil tersenyum.
“Itu ada
angkotnya, saya duluan ya Akhi, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam”
Itulah penolakan pertamaku. Awalnya aku yaa tak apa-apa. Tapi sampai ke sekian kalinya aku menawari dia pulang. Namun ia tak pernah mengindahkan ajakkanku itu. Sampai suatu ketika saat kelas 3, kegiatan Ekskul KIR mengharuskan kita semua pulang lewat magrib.
Bagiku inilah saatnya mengntar Suci pulang ke rumahnya. Alasannya karena memang sudah malam. Ternyata sama saja, ia tetap teguh pada pendiriannya. Untuk pulang sendiri saja. Saya penasaran, kenaa sih selalu dia menolaknya. Lantas ku tanya saja alasannya.
“Andaikata Hasan adalah saudara kandung Ana, atau Bapaknya Ana, atau Saudara laki-laki Ana. Ana tak akan segan-segan menerima tawaran Hasan. Tidak ada yang salah dengan Akhi, ana hanya ingin menghindari fitnah saja. Semoga Akhi mengerti,” jelas Suci.
Jlebb.. alasannya itu begitu menohok di hatiku. Segera ku beristigfar sebanyak-banyaknya. Aku dan Suci memang bukan mahram. Tak sepantasnya aku berduaan dengannya, walau sebatas boncengan di motor. Bukankah jika kita berduaan dengan yang bukan mahram yang ketiganya adalah? Setan.
Sejak itulah aku tak pernah memberi taearan untuk pulang bareng. Namun tetap hati-hati ini malah semakin jatuh cinta kepada Suci. Sampai akhirnya tiba di perpisahan SMA, aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku. Biar aku jaga perasaan ini sampai nanti. Sampai Allah mempertemukan kita lagi.
Semoga memang aku berjodoh dengannya.
…
Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari tulisannya kak rizqi di blognya yg berjudul “Risi Bersamamu”. Pun kisah ini benar-benar kisah nyata. Bukan, bukan kisah nyataku, tapi orang lain. Orang yang menyadarkanku, bahwa berdua dengan yang bukan mahram itu rasanyaa… walau terkadang aku masih saja boncengan dengan yang bukan mahram. Harusnya tidak ada kata “terkecuali” atau “ahh ini kan darurat”. Namanya hijab itu harus dijaga. Yang terpenting adalah hijab hati.
Karena saat kita berduaan dengan yang bukan mahram, itu merupakan kesempatan emas bagi Syaitan untuk masuk kedalam hati- hati kita (manusia) agar terus melakukan perbuatan hal itu. Hingga tulisan ini pun untuk mengingatkan diriku sendiri agar menghindari boncengan dengan yang bukan mahramku.

1 comments:
:)) iya setuju^^ bahaya kalo berduaan, yang ketiga pasti setan~ hehe
Post a Comment