Tatkala
tiba di kompleks masjid Salman ITB, aku terhenti di sederetan gedung kayu. Pada
gedung kayu itu ada yang bertuliskan Salman Reading Corner dan DMK namun itu
bukan tempat tujuanku. Aku lanjut berjalan kaki lagi kemudian
terhenti sejenak.
Ku melihat kedalam sebuah ruangan. Disana ada anak tangga, ada tangga ke lantai
atas, adapun tangga ke lantai bawah.
Di ujung
tangga yang menuju ke lantai paling bawah itu ada sebuah pintu, bertuliskan
KARISMA Salman ITB. Bukan, bukan itu pula tujuanku. Aku mencari sekre Pembinaan
Anak-anak Salman (PAS) ITB. Ketika aku
masuk kedalam gedung kayu ini, ku disambut oleh sebuah rak sepatu berwarna
putih di sebelah kananku.
Tampak disana
tidak ada sepetu berserakan di lantai, adapun tertata rapih di rak enam tingkat
itu. Didalamnya ada berbagai macam jenis sepatu, kebetulan ada satu ruang untuk
menyimpan sepatuku. Ku simpan sepatuku.
Katanya sih ada di lantai 3 gedung kayu. Artinya
aku harus menaiki tangga hingga tiba di lantai 3. Benar-benar gedung kayu,
ketika kakiku menapaki anak tangga terdengar jelas suara hentakan kaki “duk duk
duk”. Bak raksasa sedang berjalan diatas negri liliput. Tangganya jelas terbuat
dari kayu, dilapisi karpet plastik berwarna coklat muda. Bahkan pegangan anak
tangganya pun terbuat dari kayu.
Tibalah aku
di lantai 2, disana ada sederet jendela yang mana aku bisa melihat area paving
block depan gedung kayu. Aku lanjut lagi menaiki anak tangga. Belum sampai di
lantai tiga, ada sebuah poster bertuliskan “Welkom to pembinaan anak-anak
salman”. Artinya aku hampir sampai di sekre PAS. Kemudian aku lanjut lagi
menaiki anak tangga.
Sesampainya
di lantai 3, aku disambut oleh dua buah pintu. Pintu yang ada disebelah kananku
berwarna putih, pada pintu itu ada sebuah poster bertuliskan “Film Me, My
Sister and Muhammad Ali”. Sepertinya itu bukan sekre PAS. Ku lihat pintu yang
ada di sebelah kiriku. Sebuah pintu warna-warni bertuliskan “PAS”, lalu diatas
pintu itu ada tulisan warna-warni “Assalamu’alaikum”.
Ini pasti
sekre PAS. sayangnya sekre ini sepi, pintunya terkunci oleh sebuah gembok
berwarna kuning. Aku hanya bisa melihat sekre itu dari luar. Dari sela-sela
jendela kayu yang berwarna kuning totol-totol orange, seperti warna leher
jerapah.
Aku
mengintip kedalam ruangan. Pada kayu penyangga atap berhiaskan sebuah tulisan
“Rumah PAS ITB” di ujung kanan tulisan itu ada sebuah hiasan matahari yang tersenyum.
Dalam rumah PAS itu ada dispenser beserta galonnya, ada aquarium, ada radio
tape, ada televisi, ada printer, ada rak, ada lemari-lemari. Kesemuanya itu
berjejer rapih dibawah jendela kaca.
Benar-benar
seperti rumah! Ingin rasanya aku masuk kedalamnya, namun apadaya. Rumah PAS ini
terkunci. Ya sudahlah aku menuruni tangga lagi, kini tujuanku adalah masjid
Salman ITB. Masih ada waktu dhuha, saatnya shalat dhuha.

0 comments:
Post a Comment