Senang beribu senang dalam hatiku. Bunga-bunga seakan bertebaran di setiap langkahku. Terlebih lagi ketika aku memasuki rumah. Selepas mengucapkan salam, terdengar suara ibuku menjawab salamku.
“Lho, ada apa nak? Senyum-senyum sendiri saja,” sambung ibuku setelah menjawab salam.
“Hari ini Dewi seneeeeng banget bu,” timpalku sambil mencium tangan ibu.
“Alhamdulillah, seneng karena apa nak?” sekali tagi tanya ibuku dengan wajah penasaran.
Aku terdiam lalu, mengeluarkan sesuatu dari dalam tasku.
“Taraa..ini oleh-oleh khas Bali bu, Brem Bali.”
Aku mengeluarkan
sebuah kotak berwarna merah muda, bermerk Brem Bali rasa strawberry. Jadi tadi itu selain memberiku kalung, kak Hafidz juga memberiku sebuah oleh-oleh khas Bali itu.
sebuah kotak berwarna merah muda, bermerk Brem Bali rasa strawberry. Jadi tadi itu selain memberiku kalung, kak Hafidz juga memberiku sebuah oleh-oleh khas Bali itu.
“Lho, dari siapa ini?” lagi lagi ibuku bertanya.
“Dari kak
Hafidz bu, tadi Dewi bertemu dengan kak
Hafidz,” aku semakin tersenyum lebar.
“Oh..pantesan kamu tampak bahagia sekali.”
Aku berjalan menuju kamarku, yang tak jauh dari ruang keluarga tadi. Setelah melepas kerudungku, aku terpana melihat pantulan diriku di cermin. Kalung bertuliskan “Bali” yang di pakaikan oleh kak Hafidz sungguh mencuri mataku untuk terus memandanginya. Aku harus melepasnya, yah masa aku memakai kalung ini saat mandi? Nanti basah, terus tali kalungnya menjadi bau.
Aku menyimpan kalung itu di dalam kotak bekas sepatuku. Di dalam kotak itu ada tiga buku diaryku sejak SD samapi sekarang , yang masih tersimpan rapih.
Semenjak pertemuan itu, aku semkin sering lagi kontekan dengan kak Hafidz, baik itu via SMS maupun via Telepon. Semenjak itu pula kak Hafidz jadi sering pulang ke bandung. satu minggu sekali kakak selalu pulang. Aku sampai tahu betul jadwal kerjanya. Jadi enam hari kerja, kemudian dua hari libur.
Hingga tibalah bulan suci Ramadhan. Aku tahu, di hari ke-9 kak Hafidz pulang ke Bandung. Aku bersikukuh agar bertemu dengannya di Masjid Agung Bandung. sepulang sekolah aku langsung menuju Masjid Agung, dengan menaiki angkot jurusan Statsiun Hall-Gedebage. Angkot hijau muda itu mengantarkanku sampai jalan Braga.
Entah kenapa aku begitu senang melewati jalan Braga ini. Seakan aku berada di Belanda, padahal nyatanya aku belum pernah kesana. Ya, mungkin karena struktur bangunannya memang dibuat pada masa penjajahan Belanda. Dari Braga aku berjalan kaki sampai Masjid Agung.
Tepat sekali, setibanya di Masjid Agung adzan Ashar berkumandang. Memanggilku untuk segera melaksanakan shalat. Kak Hafidz masih juga belum datang. Nadzarku “kalau hari ini aku bertemu dengan kak Hafidz, berarti aku berjodoh dengannya. Dan aku akan berpuasa selama tiga hari berturut-turut setelah puasa Qadha dan puasa Syawal”.
Aku mulai cemas. Telah satu jam aku menunggunya di tempat duduk yang tersebar di sekitar air mancur halaman Masjid Agung. Akhirnya aku mengirim SMS kepada kak Hafidz.
04.00 PM. I’m still waiting you at the Big Mousque
Beberapa menit kemudian, kak
Hafidz membalas SMS-ku itu
I will coming in a few minnute
Balasan darinya itu membuatku sedikit lega. Itu artinya kak Hafidz mau datang kesini untuk bertemu denganku. Ini adalah pengamen ketiga yang mengamen di tempat aku duduk. Mereka tidak akan pergi sebelum diberi uang seperakpun. setelah yang ketiga itu aku menelpon kak Hafidz.
“Kakak udah di Masjid Agung nih, dari tadi keliling-keliling mencarimu. Dewi dimana sekarang?”
“Oh kakak udah ada disini? Ini kak, Dewi di tempat duduk sebelah air mancur. Kakak dimana?”
Dari tempat dudukku itu aku terperanjat menuju ke depan Masjid Agung. Tanganku masih menempelkan handphone di telingaku. Tak jauh dari air mancur itu, aku melihat sesosok orang yang menurut mataku tak asing lagi. Ia mengenakan jaket hitam, celana hitam, baju putih, dan sendal biru. Di punggungnya ia menggendong tas besar, mungkin di dalamnya ada sebuah laptop.
Aku tersenyum lebar, setelah mendapati seorang pria di depan Masjid Agung itu sama sepertiku, menempelkan handphone-nya di telinga kanan. Itulah kak Hafidz.
“kak, naik menara yuk!” ajakku.
“emang bisa?”
“gak tahu juga sih, tapi yuk lihat dulu kesana,” ajakku meyakinkan.
“Mari atuh kesana,” jawab kakak mengiyakan ajakanku.
Aku berjalan di samping kanan kak Hafidz. Serasa dunia ini hanya milik berdua. Sungguh, milik berdua. Aku berjalan seakan tak ada orang di sekelilingku. Padahal nyatanya orang-orang menatapku dengan pandangan penuh curiga.
“Tuh kan ada kak, ayuk naik yu. Tapi harus beli karcis dulu ya,” ujarku.
“Oh iya, kakak baru tahu lho Dew,” jawab kakak.
Aku melihat harga karcis naik menara itu sebesar Rp. 2000,00. Aku mengeluarkan dompet dari tasku. Namun kak Hafidz terlebih dahulu mengeluarkan uang dari dalam dompet yang ada di belakang saku celana hitamnya.
“Udah, di kakak saja,” ujar kakak.
“eh, makasih banyak kak,” jawabku dengan tersenyum lebar.
Dompetku dimasukkan kedalam tas lagi. Lalu kami menuju lift, di dalam lift itu maksimal 10 orang. Hingga sampaiah kami di lantai 19. Di lantai paling atas itu kami turun dari lift. Setelah tiba di lantai paling atas itu kak Hafidz langsung menuju ke pinggir jendela.
Aku mengikutinya dari belakang. Dari jendela itu Subhanallah, semua kota bandung terlihat. Berupa cekungan, namun cekukang yang tidak sempurna. Terang saja, karena saat itu awan menutupi seluruh gunung-gunung yang ada di sekeliling kota bandung. Seharusnya dari menara ini Bandung terlihat jelas seperti sebuah katel. Sebuah dataran cekung.
Awan kelabu itu menutupi kota Bandung. Entah menapa tiba-tiba ada perasaan “tidak enak hati” yang terlintas di pikiranku. Entahlah mungkin hanya perasaanku saja. semoga bukan satu pertanda buruk bagiku. Sembari mengelilingi setiap sudut jendela yang ada di sekitar menar Masjid itu kami mengobrol. Tak lupa juga tanganku yang gatal mempaparazi foto kak Hafidz.
“klik”
Aku tersenyum-senyum sendiri, hingga akhirnya kakak mengetahui kalau aku sedang mengambil fotonya. Sebuah kenag-kenangan yang tak pernah terlupakan bersamanya. Waktu berjalan semakin sore, tepat pukul 05.00PM aku turun dari menara itu, tentunya dengan menggunakan lift yang sama. Karena memang sudah waktunya menara untuk ditutup. Pertanda sebentar lagi adzan magrib berkumandang.
Setelah turun dari lift, kakak menuju pinggir tembok menara. Ia segera duduk di teras. Sepertinya kakak pusing setelah turun dari lift itu. aku sendiri juga agak pusing sehingga aku langsung duduk menyender di dinding sebelah kak Hafidz.
“kakak kenapa?” tanyaku penuh simpati.
“Nggak kenapa-kenapa Dewi, kakak Cuma sedikit pusing saja,” kesahnya.
“Oh, ya udah istirahat aja dulu. Bersandar ke dinding saja kak.”
Kakak menyenderkan punggungnya ke dinding. Kami terdiam seribu bahasa. Tak lama setelah itu, kakak memecahkan kebekuan diantara diamku.
“Dewi, kakak mau cerita nih,” ujar kakak.
“Oh boleh, sok atuh cerita,” balasku dengan penuh semangat.
Betapa tidak? Kakak begitu mudahnya bercerita kepadaku. Ia bercerita tentang masa-masa SMAnya. Sampai bercerita tentang jam tangan pemberianku yang dipakainya ke tempat kerja.
“Fizh, tumben pake jam. Nyolong dari mana tuh?” canda teman setempat kerjanya.
Kak Hafizh hanya tersenyum malu-malu. Sedangkan aku sedikit cekakcekak mendengar komentar temannya, yang dituturkan oleh kakak.
Adzan maghrib berkumandang. Aku mengeluarkan tiga butir kurma dari tasku. Kebetulan aku membawanya.
Walaupun hanya tiga butir aku tetap membaginya kepada kak Hafizh. Setelah membatalkan puasa, kakak mengajakku untuk segera shalat magrib. Selepas shalat kakak mengajakku makan di sebuah warung mie ayam. Lagi-lagi kakak membayarkan mie ayam itu, plus es campur yang kakak pesan setelah habis mie ayamnya.
Walaupun hanya tiga butir aku tetap membaginya kepada kak Hafizh. Setelah membatalkan puasa, kakak mengajakku untuk segera shalat magrib. Selepas shalat kakak mengajakku makan di sebuah warung mie ayam. Lagi-lagi kakak membayarkan mie ayam itu, plus es campur yang kakak pesan setelah habis mie ayamnya.
Di sela makan itu kakak bercerita lagi kepadaku. bahwa ia semasa hidupnya sampai sekarang ini tidak pernah mengalami yang namaya “Pacaran”. Tapi ia juga pernah merasakan yang namanya “Jatuh cinta”. Kakak bercerita tentang seseorang yang telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu.
“Namanya Fitriani,” ujar kak Hafizh.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Dia adalah teman satu angkatan kakak. Sesuai dengan namanya, dia itu begitu suci dimata kakak. Entah kenapa bagi kakak, ia bak bidadari yang turun dari langit. Begitu bercahayanya.”
“Terus?” tanyaku datar.
“ya, semenjak itu kakak mengikuti kegiatan yang sama sepertinya, yaitu Rohis. Namun sampai lulus, kakak tidak pernah menyatakan perasaan kakak. Karena kakak tahu, dalam islam itu tidak mengenal pacaran,” jelasnya.
Degg.. entah kenapa setelah mendengar kata-katanya itu hatiku bagai diremuk remuk. Betapa tidak? Kakak adalah lelaki pertama yang membuatku jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta. Aku melanjutkan perbincangan itu.
“Lalu apakah sampai sekarang kakak masih suka menghubunginya?” tanyaku penasaran.
“ya justru itu, semenjak kakak kecelakaan kakak tidak pernah menghubunginya lagi, kan HP kakak hilang,” jawabnya.
“Oh, kalo gitu apa kakak tahu rumahnya? Kenapa tidak tanyakan langsung ke rumahnya saja?”
“Justru itu, kakak gak berani Dew,” jawabnya singkat.
“Kenapa? Kalo gitu biar Dewi saja yang cari tahu ya!”
“Eh jangan ah, kakak malu,”
“Lho kenapa harus malu? Kan kakak pake baju. Nah sekarang dimana alamatnya?”
“di Buah Batu, nanti deh kakak antarkan. Tapi hanya melewati gang depan rumahnya saja ya.”
Waktu telah menunjukkan pukul 18.30, saatnya pulang. Sesampainya di daerah buah batu, kak Hafidz menunjukkan gang menuju rumah teh Fitri. Tidak ada lagi desir cemburu. Benar-benar hatiku seakan mati rasa. Terlebih lagi saat kakak berkata kepadaku.
“Kakak itu sampai sekarang masih Cinta sama Fitri, soalnya Fitri itu wanita idaman kakak banget. Tapi kakak juga ada kok perasaan ke Dewi, hanya sebatas Suka bukan Cinta.”
Hujanpun turun seakan menggantikan air mataku yang jatuh tak terbendung lagi. Aku hanya bisa diam termangu. Hujan semakin turun begitu derasnya. Kakak menghentikan laju motornya, kami ikut berteduh di sebuah warung kopi. Hujan begitu lama. Ada sampai 30 menit kami menunggu hujan reda. Setelah reda kami melanjutkan perjalanan. Sekali lagi, kakak mengantarkanku pulang ke rumah.
“Terima kasih ya kak sudah mengantarku pulang, maaf merepotkan,” kataku.
Namun kakak segera membelokkan motornya, entah kata-kataku di dengar atau tidak. Ia begitu cepatnya membawa motor hingga akhirnya hilang ditelan kelamnya malam. Aku segera masuk rumah. Tak ada lagi bunga-bunga disetiap langkahku. Setelah mengetahui satu kenyataan itu. bisa dibilang saat itu wajahku “Straight Face”.
Terima kasih kak, sudah mau berbagi cerita kepadaku. Terima kasih telah percaya padaku.
Keesokan harinya, sepulang sekolah aku berencana lagi. Untuk mencari alamat rumah teh Fitri. Sesampainya di Buah Batu, aku memasuki gang yang di tunjukkan oleh kakak kemarin malam. Aku bertanya kepada orang-orang disekitar sana. Namun tak ada satupun yang mengenal siapa itu Fitriani. Aku pasrah, terhenti di sebuah teras masjid. Tiba-tiba seorang ibu yang mengenakan gamis orange dan jilbab panjang menghampiriku.
“Assalamu’alaikum. Sedang apa neng, daritadi tampak melamun di depan teras masjid. Kenapa tidak masuk saja?” sapa ibu itu.
“Wa’alaikumsalam. Ini bu, saya sedang mencari alamat rumah teman, tapi belum bertemu juga.” Keluhku.
“Emang cari siapa neng?” tanya ibu itu lagi.
“Fitriani, ibu tahu?” tanyaku dengan penuh semangat.
“wah, kalau itu saya kurang tahu neng, ibu juga bukan orang sini. Coba tanyakan kepada pak hansip yang disana saja,” saran ibu itu.
“Oh ia, baru terpikir olehku. Terimakasih ya bu,” senyum lebar menghiasi wajahku.
Aku menghampiri pos hansif. Ternyata ia tahu betul siapa itu Fitriani. Syuuhh..nafas lega. Akhirnya aku menemukan rumahnya. Ada kios kecil di depan rumahnya, aku bertanya “apa betul ini rumah teh Fitriani?” ya ternyata betul. Namun sayang, teh fitri sedang kerja. Jadi aku hanya menitipkan salam dan nomor Hpku saja. berharap semoga teh Fitri menghubungiku.
Pencarianku tak sia-sia. Selepas magrib, teh fitri menghubungiku. Semenjak itulah aku akrab dengan teh fitri. Sampai-sampai teh fitri mengajakku mengikuti pengajian rutin setiap hari minggu pagi di masjid dekat rumahnya itu. Satu kesempatanku untuk bertemu langsung dengan teh Fitri. Aku betul-betul penasaran, sosok seperti apakah yang kak Hafizh Cintai itu.
Hari yang dijanjikan telah tiba. Pada hari minggu ini aku telah mengosongkan jadwalku khusus untuk mengikuti pengajian di masjid dekat rumah teh Fitri. Setibanya disana tak kutemui sosok yang bernama Fitriani itu. Sebentar lagi acaranya dimulai, namun teh fitri belum dattang juga. Katanya sih masih ada urusan. Aku duduk di barisan akhwat yang paling depan. 15menit kemudian teh Fitri mengirim pesan, isinya bahwa dia sudah ada di dalam masjid. Sontak aku melihat kebelakang.
Subhanallah, cantiknya. Benar-benar seperti bidadari yang turun dari langit.
Yah itulah kata-kata pertama yang aku ucapkan. Teh Fitri senyum padaku, akupun membalas senyumnya. Baju yang dipakainya sangat muslimah. Benar-benar muslimah sejati, ya begitulah menurut penilaianku. Jilbab putih yang panjang sampai pinggang, dengan baju putih bercorak merah, rok putih panjang dan memakai kaos kaki.
Aku melihat diriku. Kerudung segitiga pendek, baju kemeja coklat yang pas di badan, celana jeans ketat, dan kaos kai tipis. Benar-benar perbedaan yang kontras dengan diriku. Dari segi penampilan saja aku bagaikan bumi dan langit dengan teh Fitri. Pantas saja kak Hafizh jatuh cinta padanya. Jatuh cinta karena agama islamnya yang begitu kental.
Sepulang pengajian itu aku mendapat SMS dari teh Fitri. Isinya adalah
“Dan katakanlah kepada para perempuan beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya)...” QS. An-Nur:31
Aku langsung membuka Al-Quran terjemahanku. Tak terasa air mata meleleh melewati pipiku. Betapa jauhnya aku dengan Al-Quran. Mendalami artinya saja jarang bahkan tidak pernah. Selama ini aku hanya membaca Al-Quran saat di sekolah saja, sebelum kegiatan belajar-mengaar dimulai. Ayat itulah awal perubahanku.
Esoknya aku pergi ke sekolah dengan memakai jilbab panjang, sampai sabukku pun tidak terlihat. Benar-benar panjang. Awalnya memang risih, terlebih lagi saat mendengar komentar-komentar dari temanku. Aku hanya bisa tersenyum, semoga aku tetap seperti ini dengan Istiqomah.
Lalu bagaimana dengan kak Hafizh? Semenjak itu pula aku jarang berkirim SMS bahkan aku tidak pernah Telponan dengannya lagi. Kini aku mengerti. Sesungguhnya Cinta yang sebenarnya adalah Cinta kita terhadap Allah. bukan terhadap Manusia lawan jenis saja.
Semenjak perubahan itu, kehidupanku terasa ringan. Tanpa Cinta kepada ciptaan-Nya. Aku semakin mendalami ilmu agama, baik itu lewat teh Fitri, lewat radio agama islam, lewat ceramah-ceramah di masjid. Sampai aku lulus dari sekolahku pun terasa begitu banyak Cinta dan Kemudahan yang diberikan oleh-Nya.
Terimakasih Ya Allah atas Hidayah-mu. Kini aku mengerti apa itu Cinta... Karena Cinta-Mu kepadaku, yang masih sudi memberiku sebuah hidayah. Lewat arti sebuah Cinta yang sebenarnya...
Alhamdulillah..
End.
0 comments:
Post a Comment