Sunday, July 17, 2011

Karena Cinta-MU (part 1)

Posted by Gigikucing at 12:09 AM
Itulah Cinta
Cinta… suatu perasaan yang halus yang ada di dalam hati setiap insan. Ada yang bilang cinta itu hanya ilusi. Ada juga yang bilang cinta itu dapat mengubah segalanya menjadi lebih indah. Sebenarnya sulit di ungkapkan dengan kata-kata tetapi hanya dapat dirasakan dengan hati. Itulah cinta.


Aku juga sama, pernah bahkan sering merasakannya. Cinta kepada yang menciptakan kita, cinta kepada kedua orang tau kita, cinta kepada adik dan kakak, cinta kepada diri sendiri. Bahkan cinta kepada lawan jenis, juga tidak dapat dipungkiri.




Orang orang berkata tentang cinta, lalu aku? Aku juga manusia mempunyai hati dan perasaan itu. Mungkin sekarang memang bukan waktunya tapi aku juga tak dapat memungkirinya. Aku juga pernah jatuh cinta, dan benar-benar dapat merubahku menjadi lebih baik lagi. Diawali dengan sebuah pertemuan, lalu mengubah hidupku, dan akhirnya benar-benar menghilang.
Selepas sekolah aku jalan-jalan ke sebuah ruko mall. Ternyata aku bertemu dengan saudaraku, kDeva, dia sedang mengobrol dengan seseorang, mungkin temannya. Ketika aku mendekat, ternyata temannya itu sangat mirip dengan pak Damar yaitu, guru kimia yang mengajarku waktu kelas 1. Lalu aku berkenalan dengannya, Hafizh Hidayatullah, subhanallah nama yang bagus. Disana kami bertiga saling berbincang dan bertukar pikiran. Sampai ka Deva memintaku untuk menganbil fotonya dengan Hafizh. Hingga akhirnya aku pamit pulang karena sudah sore.
Pertemuan singkat itu tak membuahkan apapun di hatiku. Hingga dua minggu setelah pertemuan itu aku dipertemukan lagi dengannya. Rindu … ribuan rindu serasa terbalaskan. Entah sejak kapan perasaan itu ada, terlebih lagi k’Hafizh terus perhatikanku. Sungguh aku tak menyangka akan bertemu dengannya di acara seminar ini. Temanku, Arni juga ada disana dengan k’Deva. Mungkin karena k’Deva juga yang mengajaknya, sedangkan aku diantar oleh ayahku. Saat di acara seminar itu aku tidak duduk di sampingnya, aku lebih memilih untuk menemani ayahku.
Selesai acara itu k’hafizh minta k’Deva mengantarnya ke sebuah mall eletronik. K’Deva bocengan dengan Arni. Aku? Aku juga ingin ikut, tapi bagaimana dengan ayahku?. Akhirnya aku meminta ayahku untuk pulang ke rumah duluan tanpa aku. Dan aku pergi bersama k’Hafizh.
“Ayah, kalau mau pulang duluan boleh aja.”
“Lantas kamu mau kemana dulu?”
“Aku mau ikut Arni jalan-jalan. Kan Arni dengan k’Deva, nah aku dengan k’Haizh. Boleh ya Ayaah..!”
“Ya sudahlah, ayah pulang dulu ya.”
“Yaa hati-hati di jalan ayaahh.”
Mungkin aku bisa di bilang tega, karena aku lebih memilih jalan-jalan bersama k’Hafizh. Aku tak dapat mengalahkan egoku untuk pergi bersama Arni.
Hujan gerimis mulai mengguyur tubuh kami, jalanan yang kering itu mulai terbasahi. Bau debu mengusik tenggorokanku. Ku halau dengan kedua tanganku. Hujan seakan marah kepadaku, debit air yang turun semakin membesar. Beruntunglah kami sudah sampai di mall itu, tapi kerena hujan itu memisahkan motor yang dibawa k’Deva dengan kami. Aku menunggu k’Hafiz yang sedang memarkirkan motornya di tempat teduh.
Lantas aku dan k’Hafizh menunggu Arni dan k’Deva di depan gerbang mall itu. Banyaak sekali yang kami obrolkan. Hingga akhirnya hujan mulai mereda, aku dan k’Hafiz kembali ke tempat parkiran. Karena k’Deva dan Arni tidak muncul juga. Tiba-tiba hujan mengamuk lagi, membuat aku dan k’Hafizh berlari-lari. Karena aku takut kehilangan k’Hafizh, jadi aku memegang baju k’hafizh. Dingin membuat perutku menggerutu untuk segera di isi ulang. Dan hal yang sama mungkin dirasakan k’Hafizh. Sambil mencari tempat teduh, kakak mengajakku ke warung mie ayam.
“Dew, makan dulu yuk! Sambil nunggu Deva dan Arni, kakak lapar.”
“Oh boleh-boleh, mau makan apa gitu?”
“Itu ad mie ayam, beli itu saja yuk!”
Kakak memesankan dua porsi mie ayam, sambil menunggu aku mengirim pesan kepada Arni.
Send To: Arni
Text Message:
Assalamu’alaikum, Arni aku tunggu di warung mie ayam yang tak jauh dari parkir motor ya. Aku dan k’Hafizh telah memesan mie ayam. Apa kamu juga mau aku pesankan?
Tak lama kemudian Arni membalas
From: Arni
Text Message:
Wa’alaikumsalam, tentu boleh. Pesankan dua porsi lagi ya, untukku dan untuk k’Deva.
Aku segera memesankan dua porsi mie ayam lagi. Tak lama setelah aku memesan, Arni dan k’Deva datang juga. Mie ayam pun siap dimakan. Subhanallah baiknya k’Hafizh, mau membayarkan semua makanan yang telah dipesan. Awalnya k’Deva yang bercanda tapi akhirnya semua di traktir k’Hafizh.
Setelah isi ulang perut, kami pergi ke mall itu bersama-sama. Aku bergandengan dengan Arni, sedangkan k’Deva dan k’Hafizh membuntutiku dari belakang. Disana hanya melihat-lihat, laptop, notebook, camera digital, dan barang elektronik lainnya. Entah sejak kapan sempat aku berjalan disebelah k’Hafizh, dan Arni berjalan di sebelah k’Deva.
Setelah puas cuci mata, kami langsung pulang. Sepanjang perjalanan, aku dan k’Hafizh tiada hentinya berbincang. Hingga akhirnya Arni berpisah denganku, diantarkan oleh k’Deva menggunakan motornya. Kalau rumahku masih agak jauh lagi. Dan tiba-tiba air hujan mengamuk lagi, kini debit airnya sangat deras. Sehingga dalam sekejap saja membuat aku dan k’Hafizh basah kuyup. Pasti k’Hafizh merasa kedinginan. Membuatku empati kepadanya, ingin rasanya aku memeluknya untuk menghilangkan rasa kedinginannya. Tapi apa daya dia bukan muhrimku, sehingga membuat tanganku begitu berat untuk memeluknya. Boncengan dengan ayahku saja aku tak berani memeluk apalagi k’hafizh yang jelas-jelas bukan yang halal bagiku.
Akhirnya tiba juga di depan rumahku.
“Makasih banyak ya kakak, udah nganterin sampai rumah.”
“Mari mampir dulu ke rumahku!.”
“Oh, tidak makasih, mau pulang saja, malu.”
“Oh ya sudah, hati-hati di jalan ya kak!”
K’Hafizh membelokan motornya dan pulang ke rumahnya. Aku langsung masuk ke rumah, sesampainya di kamarku, aku meminta nomor handphone k’Hafizh. Dan semenjak itulah aku dan k’Hafizh sering kontekan. Mulai dari sms-an, telpon-nan. Bahkan aku sampai tahu jadwal kerja shiftnya.
Tapi, itu semua berlangsung selama 2 minggu saja. Semua nomor k’Hafizh tidak ada yang dapat dihubungi lagi. Di social network -pun (dibaca facebook) k’Hafizh tidak pernah On. Aku sangat merasa kehilangan k’Hafizh. Satu bulan, dua bulan, hingga habislah kesabaranku. Aku benar-benar mencemaskan k’Hafizh. Hingga terbesit dalam pikirku untuk mencari tahu langsung ke rumahnya. Siapa tahu k’Hafizh ada di rumahnya.
 “Dahulu waktu kakak masih kelas 1, k’Hafizh selalu berangkat ke sekolah dengan kakak.”
“Berarti  kakak tahu rumahnya?”
“Kalau rumahnya yang mana kakak kurang tahu, soalnya kakak tidak pernah main ke rumahnya. Tapi kalau mau kakak antarkan ke rumahnya boleh-boleh saja.”
“Baiklah, terima kasih k’Ikbal.”
Ku tetapkan pada tanggal merah yaitu pada hari sabtu. Sebenarnya aku tak tahu rumahnya k’Hafizh dimana, yang aku tahu adalah daerahnya saja. Beruntunglah ada k’Ikbal yang rumahnya tak jauh dari rumah k’Hafizh. K’Ikbal adalah kakak kelas di sekolahku, berbeda satu tahun denganku. Tepatnya sekarang k’Ikbal kelas 3. Pokoknya aku hanya berbekal nekat saja untukl mencari rumahnya. Toh aku punya mulut untuk bertanya.
Selama di perjalanan aku naik angkot, walaupun masih di kotaku tapi perjalanannya cukup jauh juga. Tibalah aku di depan suatu komplex perumahan, disana k’Ikbal sudah menungguku.
“Sudah lamakah menungguku?”
“Tidak juga, mari kita mulai mencari rumah k’Hafizh.”
“Baiklah, mari kak.”
Sang bola api terik tepat di atas kepalaku, aku dan k’Ikbal tak kuasa menahan teriknya sang empunya siang. Bola api itu membuatku letih dan lelah. Seruan alam telah memanggil untuk melakukan kewajiban-Nya. Aku cari di sekitarku tapi tak kudapati sebuah masjid.
“Ka, udah dzuhur. Tapi aku tak melihat ada masjid.”
“Iya mari kita shalat dulu, masjidnya ada di blok selanjutnya.”
“Baiklah, mari kita kesana. aku juga merasa lelah, merindukan kesegaran air wudhu-Nya.”
Setibanya di masjid aku langsung mendapati tempat wudhu. Begitu segarnya ketika aku bertemu air wudhu-Nya tepat di wajahku. Sejenak ku curahkan rasa lelahku kepada-Nya, hingga kembalikan lagi semangatku untuk mencari rumah k’Hafizh.
Perjalananpun dilanjutkan lagi, k’Ikbal sangat baik. Mau bertanya kepada orang-orang sekitar sana untuk menanyakan alamat rumah k’Hafizh. Dari mulut ke mulut, ini kali ketiga k’Ikbal bertanya kepada seorang penjaga kios kecil di dekat suatu gapura. Dan ibu itu tidak tahu alamat aku cari, jelaslah aku tah tahu betul alamatnya itu dimana, yang aku tahu hanya daerahnya saja.
Kami menyusuri jalan di gapura itu hingga aku dapati seorang adik kecil dengan membawa sepedahnya. Aku beranikan untuk bertanya kepada adik kecil itu, semoga saja adik kecil itu tahu rumahnya k’hafizh.
“Dik, apa adik tahu rumahnya k’Hafizh?”
“apa yang neng cari itu yang waktu itu kecelakaan? bang Hafizh kan?”
“Hah kecelakaan? Iya betul de.”
“Sudah dekat kak. lurus saja, mengikuti jalan di gang ini, lalu belok kiri. Disana ada warung itulah rumah bang Hafizh.”
“Oh terimakasih ya dik atas informasinya.”
KECELAKAAN?? Benar benar membuatku semakin khawatir. Aku tertegun ketika mendengar hal itu. Tapi wajahku tak mau menampakkan rasa khawatirku itu. Tibalah kami di suatu warung, sepertinya inilah rumah yang ditunjuk oleh adik kecil itu. Sekali lagi k’Ikbal mau bertanya kepada pemilik warung itu. Dan ternyata itu adalah ibunya k’Hafizh.
Lalu kami di persilakan untuk masuk. Aku dapati sebuah motor yang dahulu dipakai k’Hafizh mengantarkanku pulang ke rumah. Benar kata adik kecil itu, beberapa minggu lalu k’Hafizh kecelakaan. Aku terlambat datang ke rumahnya, baru saja kemarin malam k’Hafizh pergi lagi keluar kota untuk bekerja.
Ibunya ceritakan semuanya, yang membuatku tak kuasa mendengarnya. Air mataku mendesak untuk keluar, tapi aku tahan. Malu kalau aku akhirnya menjatuhkan butiran-butiran itu. Ku bisa menahannya sampai mataku berkaca-kaca.

0 comments:

Post a Comment

 

Coretan Gigi Kucing Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea