Friday, July 1, 2011

DO THE BEST !! (Part 1)

Posted by Gigikucing at 10:59 PM
My Best Teacher at my School SMKN 7 Bdg
Aku terlahir bukan dari keluarga yang berada, bayangkan bapaku hanya seorang sopir angkot dengan penghasilan yang tidak tetap. Ibuku, hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Kami empat bersaudara perempuan semua, yang pertama Rida Nurhaida (guru matematika kls 1), aku adalah yang kedua berbeda 2 tahun dengan kakakku, tapi adikku yang ketiga berbeda 7 tahun denganku, dia adalah Yayu Supriatini sekarang sekarang bekerja sebagai bidan. Dan si kecil berbeda 14 tahun
dengan Yayu, dia adalah Ajeng Yuriandani sekarang kelas 2 di tempatku mengajar.

Walaupun dari keluarga yang sangat pas-pasan tapi saya sangat bersyukur memiliki orangtua sehebat bapa dan ibu. Mereka adalah orangtua yang sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Apapun akan mereka lakukan demi pendidikan anak-anaknya. Dikalangan keluarga besar ataupun para tettangga hanya mereka lah orang tua miskin yang memaksakan sekolah untuk anak-anaknya jadi tidak kurang yang sangat mencibir atau bahkan hanya memandang sebelah mata keluarga kami apalagi bapaku hanya seorang sopir. Satu lagi yang saya syukuri mereka selalu menanamkana agama yang kuat. Bapak saja yang jarang sholat atau bahkan sama seperti sopir2 yang lain hanya sholat setahun dua kali galaknya minta ampun kalau kami tidak sholat, kakiku kena lidi. Pokoknya kami harus tetap melaksanakan sholat 5 waktu. Syukur kepada-Mu ya Alloh jika mereka tidak seperti itu mungkin kami akan jauh dari-MU.
Waktu SD mungkin masalah keluarga yang dicibir oleh yang dicibir oleh orang lain tidak menjadi pikiranku kan masih kecil. Tapi ketika masuk SMP mulailah terpikir olehku ingin seperti orang lain yang keluarganya dihormati bapanya menjadi tokoh di desaku. Tapi mau bagaimana lagi semuanya imposible untuk diubah. Sejak saat itu saya hanya bertekad untuk menjadi anak yang baik buat mereka dan “DO THE BEST” dimana pun saya berada. Alhasil kakakku dan aku selalu mendapat rangking bahkan juara umum di sekolah kami. Berbagai macam penghargaan kami peroleh, mulai dari cerdas cermat, olimpiade, murid teladan, bahkan kami peraih NEM (kalau sekarang SKHUN) tertinggi.
Awalnya kakakku yang dapat semuannya dan ternyata aku pun mengikutinya.
Sejak saat itu mulailah orang lain menghargai kami, kini keluargaku menjadi keluarga yang dihormati dan terkenal dengan anak-anaknya yang pintar, belum lagi ketika adikku yang ketiga pun mengikuti jejak kami. Pokoknya banyak orang tua yang bilang kalau masuk sekolah yang ada anak pak Dadang (bapakku) siap-siap saja untuk menjadi juara 2 karena juara satunya pasti anak pak Dadang.
Alhamdulillah kami menjadi kebanggan orang tua bahkan kebanggaan keluarga besar.
SMP adalah masa-masa yang terindah. Sejak SMP juga aku dapat menggunakan jilbab Alhamdulillah hidayah-Nya begitu cepat. Saat itu aku sangat mengidolakan kakaku (kak Rida). Ya aku sangat mengidolakan dia, orangnya baik sabar walaupun agak cengeng, dia pintar dan selalu istiqomah dengan agamanya. Bayangkan dari dulu sampai sekarang dia nggak berani keluar rumah kalau belum memakai kaos kaki, katanya aurat. Aku belum se istiqomah dia. Pokoknya dia idolaku, apapun yang dia lakukan aku ikutin termasuk ketika memilih sekolah. Aku selalu satu sekolah dengannya, tapi dia beda di SMA pun dia selalu dapat juara kalau aku hanya dapat rangking 10 besar aja maklum SMA kami kan di Kotanya Garut jadi saingannya berat2.
Waktu SMA aku dapat adik baru si kecil Ajeng. Sungguh tak ku sanggka, saat aku SMA masih dapat adik baru, Alhamdulillah.Luluslah kakakku dari SMA dia dapat PMDK ke IPB orangtuaku sangat senang. Sekaligus bingung memikirkan biayanya dari mana? Keluarga yang lain tidak ada yang mau menolong, malah berkata jangan memaksakan diri untuk kuliah kalau memang tidak ada biaya.
Ibuku tetap ibuku apapun dia lukukan demi pendidikan. Akhirnya dapat pinjaman lah dari bank dan kakakku dapat kuliah di Bogor. Setelah kepergian kakakku, aku merasa sangat kehilangan. Kini akulah yang bertanggung jawab atas kedua adikku tapi aku tak sehebat kakakku.
Setelah kakakku di Bogor bapaku jatuh sakit lumayan lama sehingga tidak dapat bekerja. Betapa sulitnya kelurga kami saat itu bisa makan darimana, belum lagi kakakku yang`membutuhkan banyak biaya. Tapi ibuku adalah super women dia tidak tinggal diam, dia cari jalan keluar dengan berjualan mulai dari masakan sampai barang-barang kreditan.
Saya sangat bersyukur mempunyai ibu seperti itu. Ada yang lupa seperti yang saya katakan kakakku adalah anak yang sholeh dia yang paling rajin mengingatkan bapa utk sholat dan Alhamdulillah kini bapaku rajin sholat.
Ketika SMA aku gila organisasi. Pernah aku menjabat 5 jabatan di 5 organisasi sekaligus. Pokoknya tidak ada hari tanpa organisasi.
Akhirnya kelas 3, aku harus memutuskan kemana masa depan ku nantinya, seperti biasa aku selalu mengikuti jejak kakakku ikut PMDK IPB tapi dengan jurusan yang berbeda.
Selesai sudah EBTANAS (kalau sekarang UN) saya menunggu pengumuman dari IPB sementara teman-temanku sudah pada pergi ke Bandung atau Jakarta untuk mengikuti bimbel menghadapi SPMB aku sih tidak ikut selain nggak ada biaya aku masih mengharap PMDK IPB sampai akhirnya datanglah pengumuman itu ternyata aku tidak diterima, saat itu aku stress, malu kepada orang tua, bingung apa yang harus aku lakukan, aku hanya bisa menangis dan minta sama orangtu untuk mengirimku ke bandung untuk mengikuti bimbel karena ingin ikut SPMB padahal tinggal 3 minggu lagi.
Terang saja orangtua ku tambah bingung, bimbel kan harus pakai biaya, belum kosnya, belum makannya , belum biaya daftarnya, apalagi aku tidak punya saudara di Bandung.
Dasar aku anak keras kepala, akhirnya orangtua mengabulkannya aku tidak tahu dari mana dapat biayanya. Pergilah aku ke bandung dan ternyata bimbel sudah penuh dan aku sudah terlambat, akhirnya aku hanya DO THE BEST lagi belajar semampuku tiada hari tanpa belajar. Semua soal aku kerjakan diulang dan diulang lagi tiada bosannya pokokknya tekadku harus kuliah. Baru beberapa hari di bandung aku sakit. Karena stresss penyakit sinusitisku kambuh. Kepalaku mulai sering pusing, akhirnya orangtuaku membawaku pulang dan berobat ke dokter spesialis THT.
Dokter bilang tidak boleh stress tapi, kalau aku tidak balik lagi ke bandung aku akan semakin stress SPMB sebentar lagi. Akhirnya dengan hati waswas mereka mengijinkan aku kembali ke bandung.
Kini saatnya menentukan pilihan, universitas mana yang harus aku pilih. Bingung setengah mati. Hati kecil mengatakan ke IKIP (Sekarang UPI) karena dari dulu cita-citaku ingin menjadi guru, tapi demi gengsi anak muda saat itu mending ke ITB saja. Nanya orang tua mereka tidak mengerti apa-apa maklum hanya lulusan SMP. Konsultasilah aku pada kakakku yang sholeh itu dan dia menyarankan aku untuk istikhoroh.
Ya istikharah adalah jalan terbaik walaupun saya tidak sesholeh kakaku tapi aku yakin Allloh tetap bersamaku. Dan akhirnya aku yakin untuk masuk ITB jurusan Matematika.
Sampai saat yang ditunggu akhirnya datang, aku dapat tempat SPMB di kampus UNPAR jalan merdeka dekat BIP. Hari pertama SPMB dengan segala persiapan dan tentu saja mohon doa dulu kepda orang tua, aku mengikuti test tersebut sampai jam 10-an seperti biasa dengan DO THE BEST. Dan bukannya sombong, ternyata soal-soal itu begitu mudah saya kerjakan, bahkan saya heran ketika keluar kelas orang-orang pada BT karena susah soalnya. Sesampainya di kosan aku bertemu dengan teman seperjuangan yang juga mengeluh karena soalnya susah, dan aku hanya diam dalam hati biasa saja.
Biasanya setelah beberapa jam dari SPMB selalu ada pembahasan soal di radio dan aku coba untuk menyamakan dengan hasilku dan wow lebih dari 50% aku benar.
Tak lama kemudian ada telepon dari ibuku dan menanyakan kabarku, dan ya Alloh ternyata kemudahan hari itu karena keagungan doa ibuku, sejak sholat tahajudnya dia mendoakan aku, dia tak beranjak dari rukunya sampai aku selesai mengerjakan soal (jam 10-an) berdoa terus bahkan si kecil ajeng bapaku yang ngurus. Subahanalloh ternyata doa seorang ibu benar-benar penting buat anak2nya.
Hari kedua SPMB sama seperti hari pertama tidak begitu susah dan ibuku tetap berdoa sampai aku selesai. Pulanglah aku ke Garut menunggu hasil SPMB.
Bulan Juni 1997, sejak subuh bapaku sudah pergi ke alun-alun Garut untuk mencari Koran. Hari itu pengumuman UMPTN.
Aku cari satu-satu sesuai nomor pesertaku dan subhanalloh ada namaku di Koran dan aku meloncat-loncat kegirangan dan berteriak “aku masuk ITB”, dan baru pertama kalinya ku lihat bapaku menetaskan airmata dan aku yakin itu adalah airmata bahagia dan bangga, semua orang tahu anaknya pak Dadang masuk ITB. Alhamdulillah Ya Allah.

Tahun pertama di Bandung kuliah di ITB, aku sangat tidak betah, prinsipku DO THE BEST hilang. IP ku hancur. Sempat aku meragukan pilihanku, betulkah ini yang terbaik untukku tapi kenapa aku merasa sendiri, aku tak begitu akrab dengan teman-teman baruku aku tak betah baik di kampus maupun di kosan.
Aku yang waktu SMA gila organisasi tapi saat itu benar2 tak tertarik ikut himpunan atau organisasi lain, pokoknya pengen pulaaaaaang terus. Sempat terpikir ingin ikut SPMB lagi dan mencari jurusan atau universitas lain. Apapun itu pokoknya pengen keluar dari matematika ITB!.
Selain hal tersebut, pikiranku mulai kacau, sempat marah dengan orangtua yang selalu menomorduakan aku, sempat cemburu dengan kakaku yang di Bogor karena orangtuaku lebih mendahulukan mengirim uang kepadanya daripada kepadaku dengan alasan bogor lebih jauh daripada bandung (dulu belum ada tol cipularang). Tapi aku tetap cemburu, dan mulai ingin berontak pada orangtua karena merasa mereka lebih menyayangi kakakku, rasa kagum kepada kakakku pun sempat menjadi rasa benci, aku benci pada kakakku yang lebih diperhatikan, aku juga benci pada diriku kenapa aku terlahir dengan badan gemuk dan sering sakit hingga orang tuaku lebih menyayangi si teteh yang perfect di mataku, hingga tumbuhlah rasa sombong dalam hatiku, aku akan buktikan pada orang tuaku bahwa aku lebih baik dari dia, aku anak ITB lho jauh lebih baik dari IPB. Astagfirulloh kalau ingat hal itu aku menjadi sangat. Tapi kak’Rida memang anak baik, Setiap bertemu auranya dapat menghilangkan rasa benciku, hingga aku tetap mengagumi dia.
Hampir satu semester ( semester 3) rasa tersebut ada dalam hati tapi akhirnya aku sadar semuanya tidak ada gunanya. Astagfirullah syaitan telah menguasaiku, akhir-akhir ini aku memang merasa jauh dari-Nya. Dan Alhamdulillah Allah tetap menyayangiku dengan cepat dia menyadarkan aku dengan sikapku itu, aku benar-benar telah menjadi anak yang durhaka, selalu minta dimengerti oleh orangtua tapi aku sendiri tidak mengerti mereka. Kucoba mengerti dan membaca keadaan mereka dan sadar kalau sebenarnya mereka berbuat itu pasti karena tidak ada uangnya, kasihan kakakku kalau kehabisan uang susah pulang sedangkan aku kan di bandung gampang pulang ke garut paling lama 3 jam.

Semester berikutnya aku coba mengembalikan prinsipku DO THE BEST, kucoba untuk memperbaiki IP dan menghilangkan semua perasaan negatifku pada orangtua.

Uang kiriman selalu terlambat tidak dijadikan masalah buatku, aku berusaha mulai dari cari pinjaman atau aku juga pernah ikut jualan dengan teman se-kost.
Pernah lho aku seharian belum makan karena tidak punya uang dan mau meminjam malu. Tapi semuanya menjadi kenangan indah buatku sampai sekarang.

Sampailah waktunya kakakku wisuda, yang wisudanya satu tapi yang nganter semua keluarga besar, uwa, bibi, om dari garut maupun dari Jakarta semua ikut ke bogor untuk menyaksikan wisudanya kakakku. Mereka ikut berbahagia, apalagi orangtua kami, dan pastinya orangtuaku termasuk aku sendiri berharap kelulusan kakakku adalah awal dari semuanya, kami berharap dia mendapat kerja dan dapat membantu bapak dan ibu dalam masalah keuangan.
Tapi kenyataan lain dari harapan beberapa bulan setelah lulus kakakku memutuskan untuk menikah.
Tentu saja semuanya kaget dan kecewa termasuk bapak dan ibu, harapan mereka hancur dengan keputusan kakakku, mereka termasuk aku benar-benar kecewa. Tapi mau bagaimana lagi ini adalah keputusannya, tidak mungkin kami harus menghambat kebahagiaannya hanya demi diri sendiri. Yah akhirnya menikah lah kakakku dan di malam pertama mereka, akulah yang disidang keluarga besar, mereka berpesan jangan mengikuti kakakku, kalau lulus nanti aku harus cari kerja dan berbakti dulu sama orangtuaku, dan saat itu karena aku juga ikut kecewa seperti mereka aku berjanji akan memenuhi harapan orangtua walaupun pada kenyataannya aku melanggar janji itu.

To Be Countinue to>> DO THE BEST (Part 2)

1 comments:

Gigikucing said...

terima kaasih telah membaca cerpen inii..
^^

Post a Comment

 

Coretan Gigi Kucing Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea